Seperti judulnya, Seperti Dendam (cukup disingkat begini saja ya nyebutinnya), memanglah sebuah cerita balas-dendam sebanyak film ini sebagai sebuah kisah cinta. Ini adalah film yang ada kelahi-kelahinya, ada romansa-romansanya, dan sering juga keduanya – berkelahi dan romansa itu – berlangsung sekaligus. Untuk membuat dirinya semakin unik, film ini hidup berlatar dunia 80an. Tampil layaknya film laga yang berlangsung dan seperti benar-benar dibuat oleh industri tahun segitu. 

Berpeganganlah yang erat, karena karya Edwin yang diadaptasi dari novel Eka Kurniawan ini only gets weirder. Nada yang sedari awal diarahkan berbunyi seperti komedi lantas menjadi surealis ketika elemen mistis mulai diperkenalkan. Bersiaplah karena di sini gambar-gambar di belakang truk akan bisa berbicara. Dan jika kalian mengharapkan ada sesuatu setelah semua debu-debu truk itu lenyap, setelah semua pukulan-pukulan teknis itu mendarat menghujam, Seperti Dendam bakal melayangkan serangan terakhirnya dengan ending yang begitu tiba-tiba.

Sinopsis


Film ini mengisahkan tentang tinju berdarah, patah hati, dan duel pengemudi truk Jakarta. Film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas menceritakan Ajo Kawir (yang diperankan Marthino Lio), seorang jagoan yang gemar berkelahi, dan perempuan yang ia cintai, Iteung (diperankan Ladya Cheryll). 

Hasratnya yang besar untuk berkelahi dan tak takut mati didorong sebuah rahasia yang dipendam sejak remaja. Ketika berhadapan dengan seorang petarung perempuan tangguh bernama Iteung, Ajo babak belur hingga jungkir balik, dan dia jatuh cinta. Kisah Ajo dan Iteung berawal dengan manis dan berlanjut ke arah yang lebih jauh. 

Namun, manis di awal kisah cinta mereka ternyata tak bertahan lama dalam kehidupan rumah tangga. Hubungan mereka mulai terganggu ketika Budi Baik (Reza Rahadian) hadir di tengah-tengah mereka. Akankah Ajo menjalani kehidupan yang bahagia bersama Iteung dan, pada akhirnya, berdamai dengan dirinya?